Tidak diragukan lagi bahwa ASI memang merupakan makanan terbaik untuk bayi. Namun sayangnya penggunaan ASI terus menurun secara drastis. Perilaku tidak menyusui berubah sejalan dengan perubahan pendidikan formal. Pemberian susu botol meningkat dari 5% (Pendidikan Sekolah Dasar ke atas) sampai 56% (perguruan tinggi). Sebaliknya pemberian ASI menurun dari 89% (sekolah dasar) sampai 0% (perguruan tinggi). Pemberian ASI eksklusif cenderung menurun dari 37 % menjadi 30 %, sementara pemberian makanan tambahan tetap tidak cukup.
Banyak faktor yang menyebabkan seorang ibu tidak dapat menyusui bayi. Salah satu ialah karena air susu tidak keluar. Penyebab air susu tidak keluar juga tidak sedikit, mulai dari stres mental sampai ke penyakit fisik termasuk malnutrisi.
Ibu menyusui sesungguhnya tidak perlu diet yang sangat sempurna. Ada beberapa zat gizi yang harus lebih dikonsumsi selama menyusui. Komposisi ASI pada ibu yang kurang banyak mengkonsumsi makanan sebenarya tidak berbeda dengan yang banyak mengkonsumsi makanan tetapi yang berbeda adalah volume ASI itu sendiri. Sebab itu ibu menyusui dianjurkan untuk memperbanyak minum serta cukup beristirahat.
Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi. Di Philipina jika ASI tidak keluar secara teratur, ibu menyusui disarankan untuk lebih banyak mengkonsumsi ayam dan pepaya muda yang digodok dengan santan. Ibu juga disarankan memakan sup dari kerang rebus dan diberi jahe. Sementara ibu-ibu di Korea pada umumnya mengkonsumsi sup dari ganggang laut dengan nasi untuk meningkatkan produksi ASI. Imigran spanyol di Amerika mempercayai bahwa bila ibu dibiarkan kedinginan terlalu lama, akan mengurangi pengeluaran ASI. Di Finlandia susu formula tidak populer bagi bayi, hampir semua ibu memberi ASI bagi bayi mereka. Sebagai kesimpulan dapat di kemukakan bahwa pemberian ASI bagi bayi telah meluas dan populer sampai ke Indonesia dimana telah dikenal dengan program ASI eksklusif. Agar tercapai hal tersebut maka ibu menyusui harus mengkonsumsi makanan yang bergizi, beragam dan bervariasi sesuai kebutuhan dan berdasarkan angka kecukupannya.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan
Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan tubuh setiap hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energi dan zat-zat gizi. Kekurangan atau kelebihan dalam jangka waktu yang lama akan berakibat buruk terhadap kesehatan. Kebutuhan akan energi dan zat-zat gizi bergantung pada berbagai faktor, seperti umur, gender, berat badan, iklim dan aktivitas fisik. Oleh karena itu perlu disusun angka kecukupan gizi yang dianjurkan yang sesuai untuk rata-rata penduduk yang hidup didaerah tertentu. Angka kecukupan gizi yang dianjurkan digunakan sebagai standar guna mencapai status gizi optimal bagi penduduk.
Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) atau Recommended Dietary Allowences (RDA) adalah taraf konsumsi zat-zat gizi esensial, yang berdasarkan pengetahuan ilmiah dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hampir semua orang sehat. Angka kecukupan gizi berbeda dengan kebutuhan gizi (dietary requirements). Angka kebutuhan gizi adalah banyaknya zat-zat gizi minimal yang dibutuhkan seseorang untuk mempertahankan status gizi adekuat.
B. FISIOLOGI ASI
B.1. Pengertian
Kelenjar susu tersusun atas dua macam jaringan, yaitu jaringan kelenjar (glandular tissue, atau parenkim), dan penopang (supporting tissue atau stroma). Jaringan kelenjar berisi banyak sekali kantong alveolus yang dikelilingi oleh jaringan epitel otot yang bersifat kontraktif. Bagian dalam alveolus dilapisi oleh selapis epitel. Susu dibentuk pada epitel kelenjar ini. Persiapan untuk berproduksi berlangsung selama kehamilan sehingga memperbesar sampai 2-3 kali ukuran normal.
Air susu terbentuk melalui dua fase, yaitu fase sekresi dan pengaliran. Pada bagian pertama, susu di sekresi oleh sel kelenjar kedalam lumen alveoli. Pada tikus proses ini diawasi oleh hormon prolaktin dan ACTH. Kedua hormon ini mempengaruhi perkembangan kelenjar mamme. Pada fase kedua air susu dihasilkan oleh kelenjar dilairkan ke puting susu, setelah sebelumnya terkumpul dalam sinus. Selama kehamilan berlangsung laktogenesis kemungkinan besar terkunci oleh pengaruh progesteron pada sel kelenjar. Seusai partus kadar hormon ini menyusut drastis memberi kesempatan prolaktin untuk bereaksi sehingga mengimbas ke laktogenesis.
Refleksi yang berpengaruh terhadap kelancaran laktasi adalah refleksi yang terjadi pada ibu (yaitu refleksi prolaktin dan refleksi oksitosin) dan relaks yang terjadi pada bayi (yaitu mencari puting susu, mengisap dan menelan).
ü Refleksi Prolaktin
Ketika bayi menyusu, ujung saraf sensori yang terdapat pada papila mammae terangsang. Impuls dibawa oleh serabut aferen ke hipotalamus didasar otot, yang akan memacu pars anterior hipose untuk mengeluarkan prolaktin ke dalam darah. Prolaktin memacu sel kelenjar untuk menyekresi air susu. Jadi makin sering menyusu makin banyak prolaktin dilepas sehingga makin banyak air susu yang diproduksi oleh kelenjar.
ü Refleksi Oksitosin
Ransangan yang ditimbulkan bayi waktu menyusu diantar sampai ke pars posterior hipofise yang akan melepas hormon oksitosin ke darah. Oksitosin ini akan memacu sel-sel mioepitel yang mengelilingi aveoli dan duktuli berkontraksi sehingga memeras air susu dari aveoli, duktuli sinus menuju papilla mammae. Keluarnya air susu karena kontraksi mioeptel tersebut disebut ” let down feflex’. Oksitosin juga mempengaruhi dinding uterus (miometrium) berkontraksi sehingga mempercepat keluarnya plasenta dan lokia sehingga mengurangi perdarahan. Rasa khawatir dan sedih akan menghambat refleks tersebut juga rasa sakit.
ü Refleks mencari puting susu
Bila bayi disentuh pipinya dengan sendirinya ia akan menoleh kearah sentuhan. Bila bibir dirangsang atau disentuh ia akan membuka mulut dan berusaha mencari puting untuk menyusu. Keadaan ini disebut ”rooting reflex”.
ü Refleksi menghisap
Refleks menghisap mulai ada sesuatu yang merangsang langit-langit belakang (pallatum durum) bayi. Untuk dapat merangsang langit-langit bagian belakang, maka areola mammae harus dapat seluruhnya tertangkap oleh mulut bayi. Dengan demikian areola dan papilla akan tertekan gusi, lidah serta langit-langit bayi. Sehingga sinus laktiferus yang ada di bawah areola mammae tertekan. Akibatnya air susu diperas keluar ke mulut bayi.
C. Makanan Ibu Menyusui
Pemberian ASI sangat penting karena ASI merupakan makanan utama bayi. Dengan ASI bayi akan tumbuh sempurna sebagai manusia yang sehat, bersifat lemah lembut dan mempunyai IQ yang tinggi. Hal ini disebabkan karena ASI mengandung asam dokosa heksaeniod (DHA). Bayi yang diberi ASI secara bermakna akan mempunyai IQ yang lebih tinggi daripada yang mendapat susu bubuk. Bayi yang diberi ASI akan mendapat kasih sayang dari ibu karena dekapan ibu, maka ikatan antara ibu dan bayi menjadi erat. Kesatuan ikatan antara ibu dan bayi akan menyebabkan emosi ibu menjadi baik. Emosi ibu yang baik akan meningkatkan pengeluaran hormon oksitosin akan merangsang kelenjar-kelenjar pada buah dada untuk berkontraksi mengeluarkan ASI. Selama menyusui ibu memproduksi sekitar ± 800 cc air susu yang mengandung ± 600 Kkal. Karena itu ibu menyusui membutuhkan tambahan ± 800 Kkal yaitu ± 600 Kkal untuk produksi ASI dan 200 Kkal untuk aktivitas ibu selama menyusui. Karena itu kebutuhan ibu menyusui ± 2.200 Kkal untuk kebutuhan normal, ditambah dengan 800 Kkal sehingga keseluruhan menjadi 3.000 Kkal sehari.
Tambahan gizi lain dalam sehari bagi ibu menyusui adalah protein sebanyak 50 gram, kalsium 0,5 – 1 gram, zat besi 20 mg, vitamin C 100 mg, vitamin B1 1,3 mg, vitamin B2 1,3 mg, dan air ± 8 gelas sehari. Disamping itu pada ibu menyusui dianjurkan makanan makanan yang mengandung asam lemak omega 3. asam lemak omega 3 banyak terdapat pada ikan laut seperti kakap, tongkol dan lemuru. Asam lemak omega 3 akan dirubah menjadi DHA, zat ini akan dikeluarkan melalui ASI. Kalsium terdapat susu, keju, teri, kacang-kacangan, dan sebagainya. Zat besi terdapat pada datging, hati, golongan sea food, dan bayam. Zn (zink) banyak teradapat pada sea food. Vitamin C terdapat dalam buah-buahan yang memiliki rasa kecut dan asam seperti jeruk, sirsak, apel, tomat. Vitamin B1 dan B2 terdapat pada beras, kacang-kacangan, hati, telur, ikan dan sebagainya.
Kualitas dan jumlah makanan yang dikonsumsi ibu sangat berpengaruh pada jumlah ASI yang dihasilkan , ibu menyusui disarankan memperoleh tambahan zat makanan 800 Kkal yang digunakan untuk memproduksi ASI dan untuk aktivitas ibu itu sendiri. Kebutuhan gizi selama laktasi didasarkan pada kandungan gizi air susu ibu dan jumlah gizi penghasil susu.
E. Kebutuhan Gizi Ibu Menyusui
Kalori. Ibu menyusui membutuhkan sekitar 500 kalori per hari untuk menghasilkan air susu bagi kebutuhan bayinya. Untuk mengetahui terpenuhinya kebutuhan kalori dengan cara menimbang berat badan, apabila terjadi penurunan lebih dari 0,9 kg per minggu setelah minggu pertama menyusui, berarti kebutuhan kalori tidak tercukupi, sehingga akan mengganggu produksi air susu.
Protein. Ibu menyusui membutuhkan tiga porsi protein per hari selama menyusui, protein sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi air susu. Ibu memerlukan tambahan 20 gram protein diatas kebutuhan normal ketika menyusui. Jumlah ini hanya 16% dari tambahan 500 kal yang diajurkan.
Vitamin C. Karena bayi tidak dapat memperoleh kebutuhan vitamin C selain dari air susu ibu, maka ibu menyusui perlu makan dua porsi makanan segar yang mengandung vitamin C per hari, untuk menjamin bahwa air susu merupakan sumber vitamin C bagi bayinya.
Kalsium. Selama menyusui kebutuhan kalsium akan meningkat satu porsi sehari, melebihi kebutuhan selama kehamilan, dengan total lima porsi sehari.
Zat Besi. Ibu menyusui memerlukan pergantian simpanan darah yang hilang setelah melahirkan, dan untuk keperluan bayi. Untuk itu selama menyusui makanlah makanan yang kaya akan zat besi setiap hari. Karena tidak mungkin didapatkan hanya dari makanan, maka ibu menyusui perlu mendapatkan suplemen zat besi sedikitnya 30-60 mg per hari.
Lemak. Lemak merupakan komponen penting dalam air susu, sebagian kalori yang dikandungnya berasal dari lemak. Lemak bermanfaat untuk pertumbuhan bayi. Kebutuhan lemak berkaitan dengan berat badan, apabila berat badan ibu menyusui turun, maka tingkatkan asupan lemak sampai empat porsi sehari.
Cairan. Pertimbangan gizi lain selama menyusui adalah asupan cairan. Dianjurkan bahwa ibu yang menyusui minum 2-3 liter cairan per hari, lebih baik dalam bentuk air putih, susu dan jus buah bukan minuman ringan, sirup, dan minuman mengandung kafein. Biasanya ibu sangat dianjurkan untuk minum satu gelas setiap kali menyusui. Rasa haus adalah indikator baik tentang kebutuhan cairan, kecuali ibu hidup di lingkungan kering atau melakukan latihan fisik di cuaca panas. Cairan yang dikonsumsi berlebihan dalam keadaan haus tidak meningkatkan volume susu.
Garam. Untuk pembentukan air susu gunakan garam dalam jumlah secukupnya, penambahan garam meja agak dikurangi. Garam yang digunakan harus mengandung iodium, karena iodium sangat dibutuhkan oleh bayi. Hindari makanan olahan, dan makanan cepat saji dalam jumlah yang banyak, karena makanan tersebut mengandung garam lebih banyak dari yang dibutuhkan.
Vitamin dan Mineral. Kebutuhan vitamin dan mineral selama menyusui lebih tinggi daripada selama hamil. Zat gizi yang paling mungkin dikonsumsi dalam jumlah yang tidak adekuat oleh ibu menyusui adalah kalsium, magnesium, zink, vitamin B6 dan folat. Multivitamin dan suplemen mineral tidak dianjurkan untuk menggunaan rutin. Namun suplemen khusus dapat diindikasikan ketika asupan ibu tidak adekuat, misalnya:
Multivitamin seimbang dan suplemen mineral diperlukan ibu yang mengkonsumsi makanan kurang dari 1800 kal/ hari.
Suplemen kalsium diindikasikan untuk ibu yang intoleran laktosa atau yang tidak mengkonsumsi susu cukup dan makanan kaya kalsium lainnya.
Suplemen vitamin D mungkin perlu untuk ibu yang menghindari makanan yang diperkaya vitamin D (misal susu, sereal) dan sedikit terpajan pada matahari.
Suplemen viatmin B12 perlu untuk vegetarian ketat bila mereka tidak mengkonsumsi produk tanaman diperkaya vitamin B12 secara teratur.Suplemen zat besi mungkin diperlukan untuk mengganti defisit zat besi selama hamil dan kehilangan darah selama melahirkan
1. Almatsier, S. (2003). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
2. Depkes RI. (1996). 13 Pesan dasar Gizi Seimbang. Depkes RI, Jakarta.
3. Depkessos (2000). Gizi Seimbang Menuju Hidup Sehat Bagi Ibu Hamil dan Ibu Menyusui.
4. Arisman, M.B. (2004). Gizi Dalam Daur Kehidupan, EGC, Jakarta.
5. Paath, E.F., Rumdasih, Y., Heryati (2004). Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi, EGC,
6. Sediaoetama, A.D. (2000). Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi. Dian Rakyat, Jakarta.
7. Suhardjo. (1989). Pemberian Makanan Pada Bayi dan Anak, Petunjuk Laboratorium.
8. Wiryo, H. (2002). Peningkatan Gizi Bayi, Anak, Ibu Hamil, dan Menyusui Dengan Bahan