Background: A Good nutrition status of students will greatly support their physical activities. Social economic status of a family may affect intake of nutrient, energy and protein which can bring impact on nutrition status. Good nutrition status is necessary for teenagers to maintain health and support physical activities. Senior high school students from poor and non poor families may have different nutrition status, physical activities and academic achievement.
Objective: The objective of the study was to identify differences in nutrition status, physical activities and academic achievement of students from poor and non poor families at Bitung Municipality and relationship between intake of energy and protein and nutrition status, physical activities and academic achievement of students from poor and non poor families.
Method: The study was observational with cross sectional design. Population and samples were senior high school students (from database) from poor and non poor families aged 16 – 18 years. Total samples were as many as 314 students taken using stratified random sampling technique. The study was conducted in September – December 2005. Data were analyzed using chi-square, t-test and linear regression with significance level 95% and processed using SPSS software.
Result: There was a significant difference (p<0,05)>0,05) in the medium and heavy physical activity. There was a relationship between confounding variable of energy intake with nutrition status, father’s job with light activity, father’s education and job with medium activity, father and mother’s education, and father’s job as well energy intake with academic achievement. There was no relationship (p>0,05) between confounding variable with heavy physical activity.
Conclusion: There was a difference in nutrition status, there was a difference in light physical activity and academic achievement achievement between students from poor and those from non poor families..
Keywords: nutrition status, physical activities, academic achievement, poor families
PENDAHULUAN
Status gizi baik atau optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi, dan digunakan secara efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan aktivitas fisik dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin (1).
Pada umumnya kondisi status gizi yang baik memungkinkan seseorang melakukan aktivitas yang tinggi. Aktivitas yang dilakukan dengan teratur selama beberapa minggu menyebabkan penurunan massa tubuh sekitar 1-3 kg, penurunan lemak tubuh, dan bila aktivitas dilakukan berlebihan maka akan terjadi penurunan berat bada (2). Gizi kurang yang berlangsung lama (kronis) dapat mendatangkan kemudaratan pada anak didik antara lain rendahnya prestasi akademik (3).
Status gizi pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat, misalnya penurunan prestasi akademik dan penurunan kesehatan jasmani (2). Dengan demikian status gizi yang baik akan dapat menunjang peningkatan prestasi akademik, di mana prestasi akademik erat hubungannya dengan tingkat kecerdasan, hal ini sangat dipengaruhi oleh jumlah atau banyaknya sel otak seseorang (4).
Aktivitas fisik erat kaitannya dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Tubuh yang sehat akan mampu melakukan aktivitas secara optimal dan aktivitas yang dilakukan secara rutin dalam porsi yang cukup mempunyai dampak positif terhadap kesehatan tubuh. Beberapa literatur mengatakan bahwa aktivitas fisik (termasuk olah raga) dan masukan zat gizi mempunyai dampak yang sinergis terhadap kesehatan jasmani. Kesehatan jasmani merupakan manifestasi dari keseimbangan antara aktivitas fisik dan zat-zat gizi. Gambaran keseimbangan ini dapat dilihat dari penampilan fisik atau status gizi berdasarkan antropometri (5).
Sampai tahun 1996 penduduk miskin Indonesia terus mengalami penurunan baik jumlah maupun persentasenya. Pada tahun 1980 penduduk miskin berjumlah 42,3 juta jiwa (28,7%), turun menjadi 15,1% pada tahun 1990, dan menjadi 11,3% pada tahun 1996. Namun dengan terjadinya krisis ekonomi pertengahan tahun 1997 sampai tahun 1998 jumlah penduduk miskin meningkat kembali tahun 2002 yang mencapai angka 18,2% (6). Data tahun 2002 menunjukkan jumlah penduduk miskin di propinsi Sulawesi Utara yaitu 229.310 jiwa, yang tinggal di wilayah perkotaan sebanyak 36.590 jiwa (15,96%), dan yang tinggal di wilayah pedesaan 192.720 jiwa (84,0%), (7).
Kota Bitung adalah salah satu kota di propinsi Sulawesi Utara, dalam kebijakan pemerintahannya memberikan bantuan biaya pendidikan bagi semua siswa yang berasal dari keluarga miskin mulai dari SD (sekolah dasar) sampai dengan SMU (sekolah menengah umum), yang bertujuan membantu siswa tersebut untuk meningkatkan prestasi akademik dan tetap melanjutkan sekolah mereka (8).
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui perbedaan status gizi, aktivitas fisik, prestasi akademik siswa SMU Gakin dan non Gakin di Kota Bitung.
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian dan Sampel
Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan rancangan cross sectional untuk melihat perbedaan status gizi, aktivitas fisik dan prestasi akademik siswa SMU Gakin dan non Gakin di Kota Bitung.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMU negeri maupun swasta yang ada di kota Bitung. Sedangkan Sampel adalah bagian dari populasi tersebut, sampel dipilih secara proporsional stratified random sampling dan dihitung berdasarkan rumus (9). Sesuai perhitungan diatas, maka jumlah sampel minimal adalah 157 siswa gakin dan 157 siswa non gakin. Sampel kemudian dikelompokkan berdasarkan umur, jenis kelamin dan kelas. Pemilihan sampel Sekolah Menengah Umum (SMU) diambil secara keseluruhan (terdiri atas dua SMU negeri dan empat SMU swasta). Kriteria inklusi pada sampel penelitian ini yaitu : umur 16-18 tahun, masih memiliki ayah dan ibu, siswa gakin penerima bantuan dan siswa non gakin yang tidak menerima bantuan biaya pendidikan, bertempat tinggal di wilayah Kota Bitung, bersedia ikut dalam penelitian.
Cara Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu :
a. Pengumpulan data identitas dan karakteristik responden meliputi tingkat pendidikan, dan pekerjaan orang tua, diperoleh dengan mengedarkan kuesioner pada responden.
b. Pengumpulan data untuk status gizi diperoleh melalui pengukuran IMT. IMT diperoleh dari perhitungan BB (dalam kg) dibagi TB² (dalam meter). Nilai ambang IMT berdasarkan Kriteria (10). Pengukuran berat badan dengan menggunakan timbangan injak merek detecto medic yang mempunyai kapasitas 150 kg dengan ketelitian 0,1 kg, sedangkan data tinggi badan diukur dengan microtoise yang mempunyai panjang mencapai 200 cm dengan ketelitian 0,1 cm.
c. Pengumpulan data jenis kegiatan aktivitas fisik diperoleh dengan menggunakan kuesioner aktivitas fisik model IPAQ (International Physical Aktivity Questionnaire) yang telah dimodifikasi dan dikelompokkan menjadi jenis aktivitas fisik ringan, sedang, dan berat.
d. Data asupan energi dan protein siswa dikumpulkan dengan menggunakan metode food recall 24 jam. Jumlah hari recall ditentukan berdasarkan perhitungan dengan rumus (10) sebanyak 4 kali jumlah bahan makanan yang di konsumsi pada periode 24 jam sebelumnya diterjemahkan dalam ukuran rumah tangga. Kemudian dari URT dikonversi ke dalam ukuran berat (gram) untuk dianalisis, jumlah zat gizi yang dikonsumsi terutama energi dan protein yang dibandingkan dengan %AKG.
Analisis Data
Tahap pertama yang dilakukan untuk menganalisis data yaitu entry data dengan menggunakan komputer program SPSS, selanjutnya dianalisis secara deskriptif dalam bentuk uraian, tabel, grafik dan lain-lain. Untuk menguji perbedaan karakteristik subjek dilakukan uji t-test.
Analisis statistik untuk menjawab hipotesis penelitian tentang perbedaan status gizi, aktivitas fisik dan prestasi akademik digunakan uji t-test, chi square, kruskal wallis sedangkan analisis hubungan antara asupan energi dan protein dengan status gizi, aktivitas fisik, prestasi akademik dipakai uji regresi linier, pada tingkat kepercayaan 95 %, dengan bantuan program SPSS versi 10,0.
Hasil
1. Karakteristik Responden
Subyek dalam penelitian ini berjumlah 157 siswa gakin dan 157 siswa non gakin, yang terdiri atas 140 siswa laki-laki dan 174 siswa perempuan dan Umur responden terbanyak adalah 17 tahun, tersebar di 6 SMU yang ada di Kota Bitung.
Pendidikan ayah dan ibu dari siswa non gakin terbanyak tingkat SMA masing-masing 54% dan 38,7%. Pekerjaan orang ayah dari siswa non gakin terbanyak adalah pegawai swasta yaitu 47,8%, sementara ibu adalah PNS 27,4 %. Pekerjaan orang ayah dari siswa gakin lebih terbanyak sebagai nelayan 49,0%, sementara pada ibu siswa gakin terbanyak sebagai IRT (84,7%) dan sebagai petani 52,3%.
Hasil penelitian menunjukkan asupan energi ≥100% AKG pada siswa gakin mencapai 58,6% sementara pada siswa non gakin 74,5% dan untuk asupan protein pada siswa non gakin 76,4%, pada siswa gakin 50,3%. Selanjutnya asupan energi <100% AKG pada siswa gakin 41,4% jauh lebih tinggi dari siswa non gakin yaitu 25,5%, pada asupan protein <100% AKG siswa gakin mencapai 49,7% lebih tinggi dari siswa non gakin (23,6%) hal ini juga dibuktikan dari hasil uji statistik bahwa terdapat perbedaan asupan energi dan protein pada siswa SMU gakin dan non gakin di kota Bitung. Hasil penelitian juga menunjukkan rata-rata asupan energi pada siswa gakin dan non gakin masing-masing sebesar 2236,3kkal dan 2297,9 kkal/hari, asupan protein 55,3 gr dan 59,2 gr per hari.
2. Perbedaan Status Gizi Siswa Gakin dan Non Gakin di Kota Bitung
Hasilnya menunjukkan rata-rata berat badan siswa non gakin lebih berat 1,8 kg dari siswa gakin, demikian juga dengan tinggi badan siswa non gakin lebh tinggi 3,3 cm dari siswa gakin. Rata-rata status gizi antara siswa gakin dan non gakin terdapat perbedaan (p=0,007), siswa gakin yang mempunyai status gizi kurus ada 14,0 % dan yang bertatus gizi normal 82,1, sedangkan yang berstatus gizi gemuk 3,8%. Jika di lihat status gizi kurang pada siswa non gakin yaitu 0,6%, dan pada status gizi normal mencapai 92,3%, serta pada status gizi gemuk 7,0%.
3. Perbedaan Aktivitas Fisik Siswa Gakin dan Non Gakin
Hasil penelitian menunjukan ada perbedaan rata-rata aktivitas fisik ringan antara siswa gakin dan non gakin, sementara pada aktivitas sedang, aktivitas berat dan aktivitas tidur tidak terdapat perbedaan antara siswa gakin dan non gakin p>0,05.
Total aktivitas ringan pada siswa gakin dengan nilai mean 14,0 jam per hari lebih rendah 0,7 jam dari pada siswa non gakin 14,7 jam per hari, hal ini menunjukkan pada aktivitas ringan lebih lama dilakukan oleh siswa non gakin. Pada aktivitas sedang tidak terdapat perbedaan yang bermakna meskipun terdapat perbedaan rata-rata dalam jam yaitu 13,0 pada siswa gakin dan 15,6 pada non gakin dalam sehari, demikian juga pada rata-rata aktivitas berat tidak terdapat perbedaan nilai median yaitu 1,9 jam pada siswa gakin dan 2,3 jam pada siswa non gakin (p>0,05).
Pada jenis aktivitas ringan yang dilakukan selama seminggu terdapat perbedaan pada aktivitas les bahasa inggris yang mana rata-rata 1,6 jam pada siswa non gakin, selanjutnya pada siswa gakin 0,8 jam (p=0,014), demikian juga dengan aktivitas pekerjaan rumah lebih lama dilakukan oleh siswa gakin yakni 4,3 jam per hari dibanding dengan siswa non gakin 3,2 jam per hari. Rata-rata aktivitas fisik berat tidak terdapat perbedaan, tapi pada jenis kegiatan olah raga bela diri ada perbedaan, dimana siswa non gakin lebih lama melakukannya yaitu 2,3 jam dibanding siswa gakin yang hanya 1,8 jam dalam seminggu (p=0,037). Pada jenis aktivitas sepak bola, basket dan volley tidak terdapat perbedaan (p>0,05).
Tabel. Hasil Pengukuran Rata-rata Durasi Aktivitas Fisik Siswa Gakin
dan Non Gakin
Variabel
Gakin
Non Gakin
p
Mean (IK 95%) aktivitas fisik ringan (jam perhari)
Mean (IK 95%) aktivitas fisik sedang
(jam perhari)
Median (Q1;Q3) aktivitas fisik berat (jam per minggu )
Mean (IK 95%) aktivitas tidur
(jam perhari)
14,0 (12,6-15,8)
11,6 (11,3-11,9)
1,9 (1,7- 2,2)
8,3 (8,1-8,4)
14,7 (13,2-16,2)
11,8 (11,6-12,1)
2,3 (1,5-2,4)
8,4 (8,2-8,6)
0,047*
0,222
0,152
0,225
Hasil penelitian menunjukan aktivitas les bahasa Inggris siswa non gakin berbeda jumlah jam per hari dengan siswa gakin (p=0,014), kemudian aktivitas pekerjaan rumah berbeda juga antara siswa gakin dengan siswa non gakin, siswa gakin lebih lama melakukan aktivitas tersebut (p=0,000). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan pada aktivitas duduk santai, naik kendaraan, dan aktivitas nonton TV.
Tabel. Jenis-Jenis Aktivitas Ringan dan Jumlah Jam Per Hari yang Dilalui Siswa Gakin dan Non Gakin di Kota Bitung
Aktivitas
Gakin
Non Gakin
p
Mean (IK95%) jam per hari
Duduk Santai
Naik Kendaraan
Les Bahasa Inggris
Pekerjaan Rumah
Nonton TV
4,5 (4,2-4,9)
1,0 (0,8-1,3)
0,8 (0,5-1,2)
4,3 (4,0-4,7)
3,4 (3,1-3,7)
4,9 (4,6-5,2)
1,2 (0,9-1,5)
1,6 (1,3-1,9)
3,2 (2,9-3,5)
3,8 (3,5-4,1)
0,109
0,274
0,014*
0,000*
0,373
Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05)Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05)Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05).
Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05).
Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka labih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05).
Sementara hasil pengukuran aktivitas sedang dari berbagai jenis aktivitas yang dilakukan oleh siswa gakin dan non gakin selama satu minggu, antara lain aktivitas jalan kaki, duduk di kelas, belajar di kelas, bermain, senam, dan pramuka dengan lamanya durasi selama aktivitas dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel. Jenis-jenis Aktivitas Sedang dan Jumlah Jam Per Hari yang Dilalui Siswa Gakin dan Non Gakin di Kota Bitung
Aktivitas
Gakin
Non Gakin
P
Mean (IK95%) jam per hari
Jalan kaki
Duduk di kelas
Belajar di kelas
Bermain
Senam
Pramuka
0,6 (0,4-0-8)
5,3 (5,2-5,5)
5,2 (5,0- 5,3)
0,7 (0,8-1,3)
0,5 (0,9-1,3)
0,7 (0,6-1,9)
0,3 (0,1-0,6)
5,3 (5,0-5,6)
5,2 (5,0-5,4)
1,7 (1,4-2,0)
1,6 (1,4-1,9)
1,5 (1,3-2,1)
0,133
1,000
1,000
0,001*
0,001*
0,000*
Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05).Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05)
Hasil penelitian yaitu terdapat perbedaan pada aktivitas bela diri antara siswa gakin dan non gakin, dimana siswa non gakin banyak waktunya yaitu 2,3 jam setiap minggu melakukan aktivitas olah raga bela diri dibanding siswa gakin 1,8 jam (p=0,037). Pada kegiatan aktivitas sepak bola, basket dan volley tidak terdapat perbedaan lamanya durasi jam antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05).
Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05).
Tabel. Jenis-jenis Aktivitas Berat dan Durasi Per Minggu yang Dilalui Siswa SMU Gakin dan Non Gakin di Kota Bitung
Aktivitas
Gakin
Non Gakin
p
Median (Q1;Q3) jam per minggu
Sepak Bola
Bela diri
Basket
Voley
2,1 (2,0-4,5)
1,8 (1,0-3,0)
1,9 (1,1-2,8)
2,0 (1,5-4,2)
2,4 (2,0-4,6)
2,3 (2,0-4,0)
2,2 (2,0-4,5)
2,3 (2,0-4,6)
0,351
0,037*
0,264
0,169
4. Perbedaan Prestasi Akademik Siswa Gakin dan Non Gakin
Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan prestasi akademik antara siswa gakin dan non gakin, ini terlihat dari nilai rata-rata rapor semester I dan II, dimana prestasi akademik siswa non gakin lebih tinggi 0,6 dari siswa gakin pada semester I, dan II. Hasil rata-rata prestasi akademik terdapat perbedaan (p=0,015) dimana siswa non gakin lebih tinggi 0,6 poin dari siswa gakin. Pada persentase pencapaian nilai (gambar 3) dalam kategori baik siswa non gakin ada 7,6% dibanding 0,6% pada siswa gakin, pada kategori nilai cukup terbanyak pada siswa non gakin yaitu 97,0% sementara siswa gakin hanya 45,8%, pula pada kategori prestasi akademik kurang terbanyak pada siswa non gakin yakni 53,5% sedang pada siswa non gakin hanya 4,4
Pembahasan
5. Perbedaan Status Gizi Siswa Gakin dan Non Gakin di Kota Bitung
Hasilnya menunjukkan rata-rata berat badan siswa non gakin lebih berat 1,8 kg dari siswa gakin, demikian juga dengan tinggi badan siswa non gakin lebh tinggi 3,3 cm dari siswa gakin. Rata-rata status gizi antara siswa gakin dan non gakin terdapat perbedaan (p=0,007), berdasarkan gambar 2 terlihat bahwa siswa gakin yang mempunyai status gizi kurus ada 14,0 % dan yang bertatus gizi normal 82,1, sedangkan yang berstatus gizi gemuk 3,8%. Jika di lihat status gizi kurang pada siswa non gakin yaitu 0,6%, dan pada status gizi normal mencapai 92,3%, serta pada status gizi gemuk 7,0%.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (11), menggunakan pengukuran status gizi dengan metode IMT di ketahui bahwa remaja yang berasal dari keluarga miskin, kurang gizi sebanyak 21% dan remaja yang kurang gizi dari keluarga non miskin 0,8%. Hasil ini sesuai dengan pendapat (12) yang mengatakan pengukuran status gizi dengan menggunakan antropometri merupakan cara penentuan status gizi yang paling mudah dan murah, dimana pengunaan Indeks Massa Tubuh (IMT) direkomendasikan sebagai indikator yang baik untuk menentukan status gizi remaja.
Pendapat yang sama oleh (2), mengatakan masalah gizi kurang pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat, misalnya penurunan prestasi akademik dan penurunan kesegaran jasmani. Almatsier (1) mengemukakan bahwa gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia., dimana kurang gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan, menurunkan produktivitas, menurunkan daya tahan, meningkatkan kesakitan dan kematian. Masa remaja merupakan periode dari pertumbuhan dan proses kematangan manusia, pada masa ini terjadi perubahan yang sangat unik dan berkelanjutan, perubahan fisik karena pertumbuhan yang terjadi akan mempengaruhi status kesehatan dan gizinya, (2). Pendapat serupa dikemukakan oleh (13), bahwa ketidakseimbangan antara asupan kebutuhan atau kecukupan akan menimbulkan masalah gizi, baik itu berupa masalah gizi lebih maupun gizi kurang.
Azwar (14) menilai bahwa siswa pada masa remaja merupakan periode dari pertumbuhan dan proses kematangan manusia, pada masa ini terjadi perubahan yang sangat unik dan berkelanjutan. Perubahan fisik karena pertumbuhan yang terjadi akan mempengaruhi status kesehatan dan gizinya. Ketidakseimbangan antara asupan kebutuhan atau kecukupan akan menimbulkan masalah gizi, baik itu berupa masalah gizi lebih maupun gizi kurang. Banyak penelitian telah dilakukan menunjukkan kelompok remaja menderita/mengalami banyak masalah gizi. Masalah gizi tersebut antara lain IMT kurang dari batas normal atau kurus dimana prevalensi remaja dengan IMT kurus berkisar antara 30% -40%.
6. Perbedaan Aktivitas Fisik Siswa Gakin dan Non Gakin
Hasil penelitian menunjukan ada perbedaan rata-rata aktivitas fisik ringan antara siswa gakin dan non gakin, sementara pada aktivitas sedang, aktivitas berat dan aktivitas tidur tidak terdapat perbedaan antara siswa gakin dan non gakin p>0,05.
Total aktivitas ringan pada siswa gakin dengan nilai mean 14,0 jam per hari lebih rendah 0,7 jam dari pada siswa non gakin 14,7 jam per hari, hal ini menunjukkan pada aktivitas ringan lebih lama dilakukan oleh siswa non gakin. Pada aktivitas sedang tidak terdapat perbedaan yang bermakna meskipun terdapat perbedaan rata-rata dalam jam yaitu 13,0 pada siswa gakin dan 15,6 pada non gakin dalam sehari, demikian juga pada rata-rata aktivitas berat tidak terdapat perbedaan nilai median yaitu 1,9 jam pada siswa gakin dan 2,3 jam pada siswa non gakin (p>0,05).
Pada jenis aktivitas ringan yang dilakukan selama seminggu terdapat perbedaan pada aktivitas les bahasa inggris yang mana rata-rata 1,6 jam pada siswa non gakin, selanjutnya pada siswa gakin 0,8 jam (p=0,014), demikian juga dengan aktivitas pekerjaan rumah lebih lama dilakukan oleh siswa gakin yakni 4,3 jam per hari dibanding dengan siswa non gakin 3,2 jam per hari. Hasil ini sesuai dengan penelitian (15) di Mosambique yang menjelaskan bahwa aktivitas pekerjaan rumah lebih lama di kerjakan oleh siswa dari keluarga miskin dibanding dengan keluarga tidak miskin. Hasil penelitian juga terlihat tidak ada perbedaan pada aktivitas duduk santai, naik kendaraan, nonton TV. Hasil penelitian pada jenis-jenis aktivitas fisik sedang antara lain bermain, mengikuti senam, dan kegiatan pramuka lebih lama durasi jam pada siswa non gakin dibanding pada siawa gakin (p<0,05),>0,05).Rata-rata aktivitas fisik berat tidak terdapat perbedaan, tapi pada jenis kegiatan olah raga bela diri ada perbedaan, dimana siswa non gakin lebih lama melakukannya yaitu 2,3 jam dibanding siswa gakin yang hanya 1,8 jam dalam seminggu (p=0,037). Pada jenis aktivitas sepak bola, basket dan volley tidak terdapat perbedaan (p>0,05)
Hasil penelitian dari (11) menyimpulkan adanya perbedaan aktivitas fisik antara remaja yang kurang gizi dengan remaja yang tidak kurang gizi, dimana remaja yang tidak kurang gizi aktivitas fisiknya lebih aktif 30 menit. Goran (16) menyimpulkan aktivitas fisik mengacu pada semua kegiatan yang dilakukan seseorang dengan melibatkan fisiknya, dimana aktivitas fisik bisa dalam bentuk yang formal dengan aturan yang sudah ditentukan misalnya olahraga, ataupun yang semata dilakukan tanpa mengikuti persyaratan atau aturan main tertentu misalnya melakukan aktivitas ringan antara lain pekerjaan rumah (memasak, mencuci pakaian, menyetrika). Huriyati et al. (17) mengatakan remaja perkotaan lebih banyak melakukan akvitas ringan dibanding dengan aktivitas berat, waktu yang digunakan mencapai 12,4 jam per hari.
Nurachmah (18) mengatakan yang bisa diperhatikan pada seseorang yang melakukan aktivitas fisik olahraga, maka berat ringannya aktivitas fisik ditentukan oleh besar kecilnya keterlibatan otot di dalamnya akan membutuhkan energi dan protein yang cukup, Treuth et al. (19). Misalnya aktivitas senam maka yang paling banyak bergerak pada kedua tangan dibandingkan dengan bermain sepak bola yang lebih banyak menggunakan kedua kaki dalam keseluruhan aktivitas fisiknya. Demikian pula dengan aktivitas fisik non-formal lainnya seperti berjalan kaki, di situ gerakan tubuh kebanyakan dilakukan oleh lengan dan kaki (20).
Semua aktivitas yang melibatkan fisik/raga manusia membutuhkan energi dan energi ini yang memungkinkan seseorang melakukan tugasnya dengan baik (21). Setiap aktivitas fisik, dari yang hanya berlangsung dalam 30 detik hingga aktivitas olahraga yang berlangsung berjam-jam membutuhkan membutuhkan energi dan protein yang seimbang (22).
Penelitian dari (23) dengan menggunakan berbagai jenis olahraga antara lain lari, basket, volley, sepak bola bila tidak diimbangi dengan konsumsi energi dan protein yang cukup maka cadangan kalori dalam tubuh akan dipecah untuk menggantikannya, ini umumnya di alami oleh remaja dari keluarga yang berpenghasilan rendah. Aktivitas fisik berupa pekerjaan di rumah misalnya mencuci pakaian, menyeterika, memasak dan lain sebagainya telah dilaporkan oleh (11) bahwa aktivitas fisik berupa pekerjaan rumah ditinjau dari segi penggunaan energi, setara dengan cabang olahraga, lari dan senam. Peneliti bahkan merekomendasikan bentuk aktivitas fisik di rumah tersebut sebagai alternatif aktivitas fisik dalam penanganan kegemukan.
7. Perbedaan Prestasi Akademik Siswa Gakin dan Non Gakin
Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan prestasi akademik antara siswa gakin dan non gakin, ini terlihat dari nilai rata-rata rapor semester I dan II, dimana prestasi akademik siswa non gakin lebih tinggi 0,6 dari siswa gakin pada semester I, dan II. Hasil rata-rata prestasi akademik terdapat perbedaan (p=0,015) dimana siswa non gakin lebih tinggi 0,6 poin dari siswa gakin (tabel 14). Pada persentase pencapaian nilai (gambar 3) dalam kategori baik siswa non gakin ada 7,6% dibanding 0,6% pada siswa gakin, pada kategori nilai cukup terbanyak pada siswa non gakin yaitu 97,0% sementara siswa gakin hanya 45,8%, pula pada kategori prestasi akademik kurang terbanyak pada siswa non gakin yakni 53,5% sedang pada siswa non gakin hanya 4,4
Prestasi Akademik merupakan predisposisi tingkat pengetahuan seseorang, WHO (24) yang menyatakan bahwa pengetahuan berhubungan sikap dan praktek, sehingga pengetahuan akan mempengaruhi sikap seseorang untuk bertindak. Suyono (25), juga menyebutkan bahwa perilaku kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor perilaku dan faktor diluar perilaku. Perilaku sendiri ditentukan oleh tiga faktor yaitu faktor predisposisi yang berupa pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, norma sosial, faktor sosio demografi, seperti umur, pendidikan, status ekonomi, pekerjaan dan jenis kelamin.
Hasil analisis membuktikan adanya hubungan yang bermakna antara variabel luar yaitu pendidikan ayah, ibu, pekerjaan ayah dan % AKG protein dengan prestasi akademik siswa. Soekirman (12) mengatakan tingkat pendidikan orang tua yang berpenghasilan baik maka akan mempengaruhi asupan protein dan tingkat pencapaian pendidikan yang baik.
Salah satu akibat kekurangan gizi yang sulit untuk dipulihkan adalah penurunan kecerdasan. Santoso dan Ranti (26), pemberian makanan bergizi yang cukup akan menentukan tingkat intelegensi, anak yang kurang gizi mempunyai intelegensi yang rendah dibanding anak yang tidak kurang gizi. Rendahnya status gizi anak-anak sekolah akan berdampak negatif pada peningkatan kualitas SDM. Meski belum sepenuhnya konklusif, namun diyakini bahwa kurang gizi kronis berhubungan erat dengan pencapaian akademik murid sekolah yang semakin rendah. Anak-anak yang pendek karena kurang gizi ternyata lebih banyak yang terlambat masuk sekolah, lebih sering absen, dan sering pula tidak naik kelas (27).
Jelliffe (28) mengatakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam pendidikan adalah keadaan kesehatan dan gizi anak sekolah. Pengembangan kemampuan teknologi memerlukan kekuatan otak yang prima. Gizi pada usia dini yang terus dipertahankan secara optimal sampai anak usia sekolah, akan berpengaruh besar pada perkembangan kekuatan otak. Akses pendidikan yang semakin baik perlu ditunjang oleh kinerja kesehatan dan gizi yang cukup, sehingga anak-anak usia sekolah dapat memaksimalkan potensi dirinya untuk menjadi pribadi-pribadi berkualitas, dan cerdas.
Hawadi (27) mengatakan keadaan sosial keluarga berhubungan dengan pengembangan kecerdasan anak, dimana anak dari keluarga tidak miskin memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dari pada anak yang berada dari keluarga yang miskin, namun (29) tidak menyimpulkan bahwa anak dari keluarga yang tidak miskin di lahirkan untuk lebih cerdas. Selanjutnya menurut (26) status gizi yang baik akan mengatasi gejala kekurangan gairah belajar di kalangan siswa disebabkan kemampuan tubuh untuk mengikuti proses pendidikan yang di jalani, meskipun demikian pendidikan tidak luput dari berbagai masalah seperti keterbatasan pemahaman keluarga akan arti pentingnya gizi bagi pendidikan anaknya, karena gizi dapat berpengaruh terhadap prestasi akademik siswa.
Kesimpulan
1. Ada perbedaan status gizi antara siswa SMU gakin dan non gakin.
2. Ada perbedaan aktivitas fisik ringan antara siswa gakin dan non gakin.
3. Ada perbedaan prestasi akademik antara siswa gakin dan non gakin.
Saran
1. Dengan adanya perbedaan status gizi, aktivitas fisik ringan, dan prestasi akademik antara siswa gakin dan non gakin, maka pemerintah daerah harus mengatasi masalah kemiskinan yang ada dikota Bitung.
2. Pada siswa gakin perlu mengkonsumsi energi dan protein lebih, karena masih ada 41,4% dan 49,3% asupannya kurang dari 100% AKG. Keluarga miskin yang 49,0% adalah nelayan sebaiknya tidak menjual secara keseluruhan hasil tangkapannya, supaya kebutuhan protein tercukupi.
3. Para perumus kebijakan pasar harus memperhatikan kebutuhan dan daya beli masyarakat miskin dengan mengatur harga batas tertinggi dan terendah sehingga keluarga miskin bisa menjangkau kebutuhannya.
4. Pada penelitian ini akan lebih baik dilengkapi dengan analisis pola konsumsi, pola aktivitas, test akademik lain untuk mengetahui adanya hambatan motorik, tingkat kecerdasan, pengaruh lingkungan sosial, daya dukung fasilitas sekolah pada siswa gakin dan non gakin.
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih peneliti ucapkan kepada seluruh responden yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini, terima kasih yang sama juga peneliti sampaikan kepada kepala dinas Pendidikan Nasional Kota Bitung para kepala sekolah SMU yang telah mengijinkan sekolahnya dijadikan lokasi penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
1. Almatsier. S. (2003). Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
2. Soetjiningsih. (2004). Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Sagung Seto, Jakarta.
3. Enoch. M. (1989). Karena Kurang Gizi Kemampuan Belajar Anak Berkurang, Medika : Maret No.3 Tahun 15 (pp. 287-290).Grafiti Medika Pers. Jakarta.
4. Soejono. S.M., Masrun,. Hadi. S.(1989). Prestasi Belajar Mahasiswa PMDK dan Non PMDK (Ditinjau Dari Segi Intelegensi, Kebiasaan Belajar, Pendidikan Orang Tua, Status Sekolah dan Jenis Kelamin di FKIP Universitas Sebelas maret Surakarta. BPPS-UGM, 2(A4).
5. Widodo, U.S dan Syafrudin. (1989). Kaitan Tingkat Kegiatan Fisik Remaja dan Kaitannya Dengan Status Gizi, Puslitbang Gizi, Bogor.
6. Depkes RI. (2000). Penelitian Gizi dan Makanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi. Bogor.
7. BPS Propinsi Sulawesi Utara. (2003). Survei Sosial Ekonomi Nasional Sulawesi Utara 2003. BPS Propinsi Sulut.
8. Pemerintah Kota Bitung. (2004). Pembebasan Dana Pendidikan, SK Walikota Bitung Nomor : 420/PDK/ 642. Tanggal 21 Oktober 2004.
9. Lemeshow. S., Osmer, D.W.Jr.,Janlle, K., Lwanga. S.K. (1990). Adequasi Of Sample Size In Health Studies. (Pramono. D). (1997). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
10. Willet. W. (1990). Nutritional Epidemiology. Oxford University Press, New York.
11. Prista, A., Maia, J.A.R., Damasceno, A., and Beunen, G. (2003). Anthropometric Indicator Of Nutritional status: Implication For Fitness, Activity, and Health In School Age Children and Adolescents From Maputo, Mosambique. American Journal Clinical Nutrition. 77:952-9.
12. Soekirman. (2000). Ilmu Gizi dan Aplikasinya. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
13. Hadi. H. (2004). Gizi Lebih Sebagai Tantangan Baru dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional. Jurnal Gizi klinik Indonesia. Vol 1;2.
14. Azwar. A. (2004). Aspek Kesehatan dan Gizi Dalam Ketahanan Pangan. Cit. Prosiding WNPG VIII, 17-19 Mei,(hal 129-161), Jakarta.
15. Benefice, E. and Ndiaye, G. (2005). Relationships Between Antrhopometry, Cardiorespiratoty Fitness Indices And Physical Activity Levels In Different Age and Sex Groups In Rural Senegal (West Africa). Annals Of Human Biology 32:366-382.
16. Goran, M.I. (1998). Measurement Issues Related to Studies of Chilhood Obesity: Assessment of Body Composition, Body Fat Distribution, Physical Activity, and Food Intake. Pediatric, 101 (Suppl), 505-518.
17. Huryati. E., Hadi. H., Julia. M. (2004). Aktivitas Fisik Pada Remaja SLTP Kota Yogjakarta dan Kabupaten Bantul Serta Hubungannya Dengan Kejadian Obesitas. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, vol 1;2.
18. Nurachmah. E. (2001). Nutrisi Dalam Keperawatan, Sagung Seto, Jakarta.
19. Treuth, S.M., Hou, N., Young, D.R., and Maynard, L.M,. (2005). Accelerometry Measured Activity or Sedentary Time and Ovwerweigth in Rular Boy and Girls. Obesity Research 13; 1606-1614.
20. Faith M. S., Leone M., A, Ayers T.S., Heo M, and Pietrobelli A. (2002). Weight Criticism During Physical Activity, Coping Skills, and Reported Physical Activity in Children. Pediatric Vol.110, pp.e23-e23.
21. Ekelund, U., Aman, J., Yngve, A,. Renman, C., Westerterp, K., and Sjostrom, M. (2002). Physical Activity But Not Energy Expenditure Is Reduced In Obese Adolescents. American Journal Clinical Nutrition, 76 : 935-41.
22. Arvidson, D, Slinde, F., and Hulthen, L. (2004). Physical Activity Questionnaire For adolescents Validate Against Doubly labeled Water. European Journal Of Clinical Nutrition, 59, 376-383.
23. Bennett G.G., Wolyn K.Y., Viswanath K., Askew S., Puleo E, and Emmons K.M. (2006). Television View and Pedometer Determinaed Physical Aktivity Among Multiethic Residents of Low Income Housing. American Journal of Public Health 1681-185.
24. WHO (1988). Pendidikan Kesehatan; Pedoman Kesehatan Dasar. Universitas Udayana
25. Suyono. S. (1986). Hubungan Timbal Balik antara Kegemukan dan Berbagai Penyakit, Dalam Kegemukan Masalah dan Penanggulangannya. FKUI, Jakarta.
26. Santoso. S., dan Ranti. A.L. (1999). Kesehatan dan Gizi. Rineka Cipta, Jakarta.
27. Hawadi. R.A. (2004). A-Z Program Percepatan Belajar dan Anak Berbakat Intelektual. Garmadia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
28. Jelliffe. D.B. (1994). Kesehatan Anak di Daerah Tropis, Bumi Aksara, Jakarta.
29. Latinulu. S., dan Kartika. V. (2002). Faktor-faktor yang Mempengaruhi kemampuan Motorik Anak Usia 12-18 bulan di keluarga miskin dan tidak miskin. PGM, 25 (2). 38-48.
Objective: The objective of the study was to identify differences in nutrition status, physical activities and academic achievement of students from poor and non poor families at Bitung Municipality and relationship between intake of energy and protein and nutrition status, physical activities and academic achievement of students from poor and non poor families.
Method: The study was observational with cross sectional design. Population and samples were senior high school students (from database) from poor and non poor families aged 16 – 18 years. Total samples were as many as 314 students taken using stratified random sampling technique. The study was conducted in September – December 2005. Data were analyzed using chi-square, t-test and linear regression with significance level 95% and processed using SPSS software.
Result: There was a significant difference (p<0,05)>0,05) in the medium and heavy physical activity. There was a relationship between confounding variable of energy intake with nutrition status, father’s job with light activity, father’s education and job with medium activity, father and mother’s education, and father’s job as well energy intake with academic achievement. There was no relationship (p>0,05) between confounding variable with heavy physical activity.
Conclusion: There was a difference in nutrition status, there was a difference in light physical activity and academic achievement achievement between students from poor and those from non poor families..
Keywords: nutrition status, physical activities, academic achievement, poor families
PENDAHULUAN
Status gizi baik atau optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi, dan digunakan secara efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan aktivitas fisik dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin (1).
Pada umumnya kondisi status gizi yang baik memungkinkan seseorang melakukan aktivitas yang tinggi. Aktivitas yang dilakukan dengan teratur selama beberapa minggu menyebabkan penurunan massa tubuh sekitar 1-3 kg, penurunan lemak tubuh, dan bila aktivitas dilakukan berlebihan maka akan terjadi penurunan berat bada (2). Gizi kurang yang berlangsung lama (kronis) dapat mendatangkan kemudaratan pada anak didik antara lain rendahnya prestasi akademik (3).
Status gizi pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat, misalnya penurunan prestasi akademik dan penurunan kesehatan jasmani (2). Dengan demikian status gizi yang baik akan dapat menunjang peningkatan prestasi akademik, di mana prestasi akademik erat hubungannya dengan tingkat kecerdasan, hal ini sangat dipengaruhi oleh jumlah atau banyaknya sel otak seseorang (4).
Aktivitas fisik erat kaitannya dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Tubuh yang sehat akan mampu melakukan aktivitas secara optimal dan aktivitas yang dilakukan secara rutin dalam porsi yang cukup mempunyai dampak positif terhadap kesehatan tubuh. Beberapa literatur mengatakan bahwa aktivitas fisik (termasuk olah raga) dan masukan zat gizi mempunyai dampak yang sinergis terhadap kesehatan jasmani. Kesehatan jasmani merupakan manifestasi dari keseimbangan antara aktivitas fisik dan zat-zat gizi. Gambaran keseimbangan ini dapat dilihat dari penampilan fisik atau status gizi berdasarkan antropometri (5).
Sampai tahun 1996 penduduk miskin Indonesia terus mengalami penurunan baik jumlah maupun persentasenya. Pada tahun 1980 penduduk miskin berjumlah 42,3 juta jiwa (28,7%), turun menjadi 15,1% pada tahun 1990, dan menjadi 11,3% pada tahun 1996. Namun dengan terjadinya krisis ekonomi pertengahan tahun 1997 sampai tahun 1998 jumlah penduduk miskin meningkat kembali tahun 2002 yang mencapai angka 18,2% (6). Data tahun 2002 menunjukkan jumlah penduduk miskin di propinsi Sulawesi Utara yaitu 229.310 jiwa, yang tinggal di wilayah perkotaan sebanyak 36.590 jiwa (15,96%), dan yang tinggal di wilayah pedesaan 192.720 jiwa (84,0%), (7).
Kota Bitung adalah salah satu kota di propinsi Sulawesi Utara, dalam kebijakan pemerintahannya memberikan bantuan biaya pendidikan bagi semua siswa yang berasal dari keluarga miskin mulai dari SD (sekolah dasar) sampai dengan SMU (sekolah menengah umum), yang bertujuan membantu siswa tersebut untuk meningkatkan prestasi akademik dan tetap melanjutkan sekolah mereka (8).
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui perbedaan status gizi, aktivitas fisik, prestasi akademik siswa SMU Gakin dan non Gakin di Kota Bitung.
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian dan Sampel
Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan rancangan cross sectional untuk melihat perbedaan status gizi, aktivitas fisik dan prestasi akademik siswa SMU Gakin dan non Gakin di Kota Bitung.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMU negeri maupun swasta yang ada di kota Bitung. Sedangkan Sampel adalah bagian dari populasi tersebut, sampel dipilih secara proporsional stratified random sampling dan dihitung berdasarkan rumus (9). Sesuai perhitungan diatas, maka jumlah sampel minimal adalah 157 siswa gakin dan 157 siswa non gakin. Sampel kemudian dikelompokkan berdasarkan umur, jenis kelamin dan kelas. Pemilihan sampel Sekolah Menengah Umum (SMU) diambil secara keseluruhan (terdiri atas dua SMU negeri dan empat SMU swasta). Kriteria inklusi pada sampel penelitian ini yaitu : umur 16-18 tahun, masih memiliki ayah dan ibu, siswa gakin penerima bantuan dan siswa non gakin yang tidak menerima bantuan biaya pendidikan, bertempat tinggal di wilayah Kota Bitung, bersedia ikut dalam penelitian.
Cara Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu :
a. Pengumpulan data identitas dan karakteristik responden meliputi tingkat pendidikan, dan pekerjaan orang tua, diperoleh dengan mengedarkan kuesioner pada responden.
b. Pengumpulan data untuk status gizi diperoleh melalui pengukuran IMT. IMT diperoleh dari perhitungan BB (dalam kg) dibagi TB² (dalam meter). Nilai ambang IMT berdasarkan Kriteria (10). Pengukuran berat badan dengan menggunakan timbangan injak merek detecto medic yang mempunyai kapasitas 150 kg dengan ketelitian 0,1 kg, sedangkan data tinggi badan diukur dengan microtoise yang mempunyai panjang mencapai 200 cm dengan ketelitian 0,1 cm.
c. Pengumpulan data jenis kegiatan aktivitas fisik diperoleh dengan menggunakan kuesioner aktivitas fisik model IPAQ (International Physical Aktivity Questionnaire) yang telah dimodifikasi dan dikelompokkan menjadi jenis aktivitas fisik ringan, sedang, dan berat.
d. Data asupan energi dan protein siswa dikumpulkan dengan menggunakan metode food recall 24 jam. Jumlah hari recall ditentukan berdasarkan perhitungan dengan rumus (10) sebanyak 4 kali jumlah bahan makanan yang di konsumsi pada periode 24 jam sebelumnya diterjemahkan dalam ukuran rumah tangga. Kemudian dari URT dikonversi ke dalam ukuran berat (gram) untuk dianalisis, jumlah zat gizi yang dikonsumsi terutama energi dan protein yang dibandingkan dengan %AKG.
Analisis Data
Tahap pertama yang dilakukan untuk menganalisis data yaitu entry data dengan menggunakan komputer program SPSS, selanjutnya dianalisis secara deskriptif dalam bentuk uraian, tabel, grafik dan lain-lain. Untuk menguji perbedaan karakteristik subjek dilakukan uji t-test.
Analisis statistik untuk menjawab hipotesis penelitian tentang perbedaan status gizi, aktivitas fisik dan prestasi akademik digunakan uji t-test, chi square, kruskal wallis sedangkan analisis hubungan antara asupan energi dan protein dengan status gizi, aktivitas fisik, prestasi akademik dipakai uji regresi linier, pada tingkat kepercayaan 95 %, dengan bantuan program SPSS versi 10,0.
Hasil
1. Karakteristik Responden
Subyek dalam penelitian ini berjumlah 157 siswa gakin dan 157 siswa non gakin, yang terdiri atas 140 siswa laki-laki dan 174 siswa perempuan dan Umur responden terbanyak adalah 17 tahun, tersebar di 6 SMU yang ada di Kota Bitung.
Pendidikan ayah dan ibu dari siswa non gakin terbanyak tingkat SMA masing-masing 54% dan 38,7%. Pekerjaan orang ayah dari siswa non gakin terbanyak adalah pegawai swasta yaitu 47,8%, sementara ibu adalah PNS 27,4 %. Pekerjaan orang ayah dari siswa gakin lebih terbanyak sebagai nelayan 49,0%, sementara pada ibu siswa gakin terbanyak sebagai IRT (84,7%) dan sebagai petani 52,3%.
Hasil penelitian menunjukkan asupan energi ≥100% AKG pada siswa gakin mencapai 58,6% sementara pada siswa non gakin 74,5% dan untuk asupan protein pada siswa non gakin 76,4%, pada siswa gakin 50,3%. Selanjutnya asupan energi <100% AKG pada siswa gakin 41,4% jauh lebih tinggi dari siswa non gakin yaitu 25,5%, pada asupan protein <100% AKG siswa gakin mencapai 49,7% lebih tinggi dari siswa non gakin (23,6%) hal ini juga dibuktikan dari hasil uji statistik bahwa terdapat perbedaan asupan energi dan protein pada siswa SMU gakin dan non gakin di kota Bitung. Hasil penelitian juga menunjukkan rata-rata asupan energi pada siswa gakin dan non gakin masing-masing sebesar 2236,3kkal dan 2297,9 kkal/hari, asupan protein 55,3 gr dan 59,2 gr per hari.
2. Perbedaan Status Gizi Siswa Gakin dan Non Gakin di Kota Bitung
Hasilnya menunjukkan rata-rata berat badan siswa non gakin lebih berat 1,8 kg dari siswa gakin, demikian juga dengan tinggi badan siswa non gakin lebh tinggi 3,3 cm dari siswa gakin. Rata-rata status gizi antara siswa gakin dan non gakin terdapat perbedaan (p=0,007), siswa gakin yang mempunyai status gizi kurus ada 14,0 % dan yang bertatus gizi normal 82,1, sedangkan yang berstatus gizi gemuk 3,8%. Jika di lihat status gizi kurang pada siswa non gakin yaitu 0,6%, dan pada status gizi normal mencapai 92,3%, serta pada status gizi gemuk 7,0%.
3. Perbedaan Aktivitas Fisik Siswa Gakin dan Non Gakin
Hasil penelitian menunjukan ada perbedaan rata-rata aktivitas fisik ringan antara siswa gakin dan non gakin, sementara pada aktivitas sedang, aktivitas berat dan aktivitas tidur tidak terdapat perbedaan antara siswa gakin dan non gakin p>0,05.
Total aktivitas ringan pada siswa gakin dengan nilai mean 14,0 jam per hari lebih rendah 0,7 jam dari pada siswa non gakin 14,7 jam per hari, hal ini menunjukkan pada aktivitas ringan lebih lama dilakukan oleh siswa non gakin. Pada aktivitas sedang tidak terdapat perbedaan yang bermakna meskipun terdapat perbedaan rata-rata dalam jam yaitu 13,0 pada siswa gakin dan 15,6 pada non gakin dalam sehari, demikian juga pada rata-rata aktivitas berat tidak terdapat perbedaan nilai median yaitu 1,9 jam pada siswa gakin dan 2,3 jam pada siswa non gakin (p>0,05).
Pada jenis aktivitas ringan yang dilakukan selama seminggu terdapat perbedaan pada aktivitas les bahasa inggris yang mana rata-rata 1,6 jam pada siswa non gakin, selanjutnya pada siswa gakin 0,8 jam (p=0,014), demikian juga dengan aktivitas pekerjaan rumah lebih lama dilakukan oleh siswa gakin yakni 4,3 jam per hari dibanding dengan siswa non gakin 3,2 jam per hari. Rata-rata aktivitas fisik berat tidak terdapat perbedaan, tapi pada jenis kegiatan olah raga bela diri ada perbedaan, dimana siswa non gakin lebih lama melakukannya yaitu 2,3 jam dibanding siswa gakin yang hanya 1,8 jam dalam seminggu (p=0,037). Pada jenis aktivitas sepak bola, basket dan volley tidak terdapat perbedaan (p>0,05).
Tabel. Hasil Pengukuran Rata-rata Durasi Aktivitas Fisik Siswa Gakin
dan Non Gakin
Variabel
Gakin
Non Gakin
p
Mean (IK 95%) aktivitas fisik ringan (jam perhari)
Mean (IK 95%) aktivitas fisik sedang
(jam perhari)
Median (Q1;Q3) aktivitas fisik berat (jam per minggu )
Mean (IK 95%) aktivitas tidur
(jam perhari)
14,0 (12,6-15,8)
11,6 (11,3-11,9)
1,9 (1,7- 2,2)
8,3 (8,1-8,4)
14,7 (13,2-16,2)
11,8 (11,6-12,1)
2,3 (1,5-2,4)
8,4 (8,2-8,6)
0,047*
0,222
0,152
0,225
Hasil penelitian menunjukan aktivitas les bahasa Inggris siswa non gakin berbeda jumlah jam per hari dengan siswa gakin (p=0,014), kemudian aktivitas pekerjaan rumah berbeda juga antara siswa gakin dengan siswa non gakin, siswa gakin lebih lama melakukan aktivitas tersebut (p=0,000). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan pada aktivitas duduk santai, naik kendaraan, dan aktivitas nonton TV.
Tabel. Jenis-Jenis Aktivitas Ringan dan Jumlah Jam Per Hari yang Dilalui Siswa Gakin dan Non Gakin di Kota Bitung
Aktivitas
Gakin
Non Gakin
p
Mean (IK95%) jam per hari
Duduk Santai
Naik Kendaraan
Les Bahasa Inggris
Pekerjaan Rumah
Nonton TV
4,5 (4,2-4,9)
1,0 (0,8-1,3)
0,8 (0,5-1,2)
4,3 (4,0-4,7)
3,4 (3,1-3,7)
4,9 (4,6-5,2)
1,2 (0,9-1,5)
1,6 (1,3-1,9)
3,2 (2,9-3,5)
3,8 (3,5-4,1)
0,109
0,274
0,014*
0,000*
0,373
Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05)Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05)Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05).
Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05).
Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka labih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05).
Sementara hasil pengukuran aktivitas sedang dari berbagai jenis aktivitas yang dilakukan oleh siswa gakin dan non gakin selama satu minggu, antara lain aktivitas jalan kaki, duduk di kelas, belajar di kelas, bermain, senam, dan pramuka dengan lamanya durasi selama aktivitas dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel. Jenis-jenis Aktivitas Sedang dan Jumlah Jam Per Hari yang Dilalui Siswa Gakin dan Non Gakin di Kota Bitung
Aktivitas
Gakin
Non Gakin
P
Mean (IK95%) jam per hari
Jalan kaki
Duduk di kelas
Belajar di kelas
Bermain
Senam
Pramuka
0,6 (0,4-0-8)
5,3 (5,2-5,5)
5,2 (5,0- 5,3)
0,7 (0,8-1,3)
0,5 (0,9-1,3)
0,7 (0,6-1,9)
0,3 (0,1-0,6)
5,3 (5,0-5,6)
5,2 (5,0-5,4)
1,7 (1,4-2,0)
1,6 (1,4-1,9)
1,5 (1,3-2,1)
0,133
1,000
1,000
0,001*
0,001*
0,000*
Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05).Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05) Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05)
Hasil penelitian yaitu terdapat perbedaan pada aktivitas bela diri antara siswa gakin dan non gakin, dimana siswa non gakin banyak waktunya yaitu 2,3 jam setiap minggu melakukan aktivitas olah raga bela diri dibanding siswa gakin 1,8 jam (p=0,037). Pada kegiatan aktivitas sepak bola, basket dan volley tidak terdapat perbedaan lamanya durasi jam antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05).
Hasil penelitian terdapat perbedaan pada aktivitas bermain yakni pada siswa non gakin lebih lama dari pada siswa gakin (0,7 jam berbanding 1,7 jam), pada aktivitas senam juga durasi lebih lama 1,6 jam pada siswa non gakin dibanding siswa gakin yang hanya 0,5 jam (p=0,001), dan pada aktivitas kegiatan pramuka lebih lama juga pada siswa non gakin yaitu 1,5 jam sedangkan pada siswa gakin 0,7 jam. Hasil penelitian pada jenis aktivitas sedang lain seperti jalan kaki, duduk di kelas dan belajar di kelas tidak ada perbedaan antara siswa gakin dan non gakin (p>0,05).
Tabel. Jenis-jenis Aktivitas Berat dan Durasi Per Minggu yang Dilalui Siswa SMU Gakin dan Non Gakin di Kota Bitung
Aktivitas
Gakin
Non Gakin
p
Median (Q1;Q3) jam per minggu
Sepak Bola
Bela diri
Basket
Voley
2,1 (2,0-4,5)
1,8 (1,0-3,0)
1,9 (1,1-2,8)
2,0 (1,5-4,2)
2,4 (2,0-4,6)
2,3 (2,0-4,0)
2,2 (2,0-4,5)
2,3 (2,0-4,6)
0,351
0,037*
0,264
0,169
4. Perbedaan Prestasi Akademik Siswa Gakin dan Non Gakin
Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan prestasi akademik antara siswa gakin dan non gakin, ini terlihat dari nilai rata-rata rapor semester I dan II, dimana prestasi akademik siswa non gakin lebih tinggi 0,6 dari siswa gakin pada semester I, dan II. Hasil rata-rata prestasi akademik terdapat perbedaan (p=0,015) dimana siswa non gakin lebih tinggi 0,6 poin dari siswa gakin. Pada persentase pencapaian nilai (gambar 3) dalam kategori baik siswa non gakin ada 7,6% dibanding 0,6% pada siswa gakin, pada kategori nilai cukup terbanyak pada siswa non gakin yaitu 97,0% sementara siswa gakin hanya 45,8%, pula pada kategori prestasi akademik kurang terbanyak pada siswa non gakin yakni 53,5% sedang pada siswa non gakin hanya 4,4
Pembahasan
5. Perbedaan Status Gizi Siswa Gakin dan Non Gakin di Kota Bitung
Hasilnya menunjukkan rata-rata berat badan siswa non gakin lebih berat 1,8 kg dari siswa gakin, demikian juga dengan tinggi badan siswa non gakin lebh tinggi 3,3 cm dari siswa gakin. Rata-rata status gizi antara siswa gakin dan non gakin terdapat perbedaan (p=0,007), berdasarkan gambar 2 terlihat bahwa siswa gakin yang mempunyai status gizi kurus ada 14,0 % dan yang bertatus gizi normal 82,1, sedangkan yang berstatus gizi gemuk 3,8%. Jika di lihat status gizi kurang pada siswa non gakin yaitu 0,6%, dan pada status gizi normal mencapai 92,3%, serta pada status gizi gemuk 7,0%.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (11), menggunakan pengukuran status gizi dengan metode IMT di ketahui bahwa remaja yang berasal dari keluarga miskin, kurang gizi sebanyak 21% dan remaja yang kurang gizi dari keluarga non miskin 0,8%. Hasil ini sesuai dengan pendapat (12) yang mengatakan pengukuran status gizi dengan menggunakan antropometri merupakan cara penentuan status gizi yang paling mudah dan murah, dimana pengunaan Indeks Massa Tubuh (IMT) direkomendasikan sebagai indikator yang baik untuk menentukan status gizi remaja.
Pendapat yang sama oleh (2), mengatakan masalah gizi kurang pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat, misalnya penurunan prestasi akademik dan penurunan kesegaran jasmani. Almatsier (1) mengemukakan bahwa gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia., dimana kurang gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan, menurunkan produktivitas, menurunkan daya tahan, meningkatkan kesakitan dan kematian. Masa remaja merupakan periode dari pertumbuhan dan proses kematangan manusia, pada masa ini terjadi perubahan yang sangat unik dan berkelanjutan, perubahan fisik karena pertumbuhan yang terjadi akan mempengaruhi status kesehatan dan gizinya, (2). Pendapat serupa dikemukakan oleh (13), bahwa ketidakseimbangan antara asupan kebutuhan atau kecukupan akan menimbulkan masalah gizi, baik itu berupa masalah gizi lebih maupun gizi kurang.
Azwar (14) menilai bahwa siswa pada masa remaja merupakan periode dari pertumbuhan dan proses kematangan manusia, pada masa ini terjadi perubahan yang sangat unik dan berkelanjutan. Perubahan fisik karena pertumbuhan yang terjadi akan mempengaruhi status kesehatan dan gizinya. Ketidakseimbangan antara asupan kebutuhan atau kecukupan akan menimbulkan masalah gizi, baik itu berupa masalah gizi lebih maupun gizi kurang. Banyak penelitian telah dilakukan menunjukkan kelompok remaja menderita/mengalami banyak masalah gizi. Masalah gizi tersebut antara lain IMT kurang dari batas normal atau kurus dimana prevalensi remaja dengan IMT kurus berkisar antara 30% -40%.
6. Perbedaan Aktivitas Fisik Siswa Gakin dan Non Gakin
Hasil penelitian menunjukan ada perbedaan rata-rata aktivitas fisik ringan antara siswa gakin dan non gakin, sementara pada aktivitas sedang, aktivitas berat dan aktivitas tidur tidak terdapat perbedaan antara siswa gakin dan non gakin p>0,05.
Total aktivitas ringan pada siswa gakin dengan nilai mean 14,0 jam per hari lebih rendah 0,7 jam dari pada siswa non gakin 14,7 jam per hari, hal ini menunjukkan pada aktivitas ringan lebih lama dilakukan oleh siswa non gakin. Pada aktivitas sedang tidak terdapat perbedaan yang bermakna meskipun terdapat perbedaan rata-rata dalam jam yaitu 13,0 pada siswa gakin dan 15,6 pada non gakin dalam sehari, demikian juga pada rata-rata aktivitas berat tidak terdapat perbedaan nilai median yaitu 1,9 jam pada siswa gakin dan 2,3 jam pada siswa non gakin (p>0,05).
Pada jenis aktivitas ringan yang dilakukan selama seminggu terdapat perbedaan pada aktivitas les bahasa inggris yang mana rata-rata 1,6 jam pada siswa non gakin, selanjutnya pada siswa gakin 0,8 jam (p=0,014), demikian juga dengan aktivitas pekerjaan rumah lebih lama dilakukan oleh siswa gakin yakni 4,3 jam per hari dibanding dengan siswa non gakin 3,2 jam per hari. Hasil ini sesuai dengan penelitian (15) di Mosambique yang menjelaskan bahwa aktivitas pekerjaan rumah lebih lama di kerjakan oleh siswa dari keluarga miskin dibanding dengan keluarga tidak miskin. Hasil penelitian juga terlihat tidak ada perbedaan pada aktivitas duduk santai, naik kendaraan, nonton TV. Hasil penelitian pada jenis-jenis aktivitas fisik sedang antara lain bermain, mengikuti senam, dan kegiatan pramuka lebih lama durasi jam pada siswa non gakin dibanding pada siawa gakin (p<0,05),>0,05).Rata-rata aktivitas fisik berat tidak terdapat perbedaan, tapi pada jenis kegiatan olah raga bela diri ada perbedaan, dimana siswa non gakin lebih lama melakukannya yaitu 2,3 jam dibanding siswa gakin yang hanya 1,8 jam dalam seminggu (p=0,037). Pada jenis aktivitas sepak bola, basket dan volley tidak terdapat perbedaan (p>0,05)
Hasil penelitian dari (11) menyimpulkan adanya perbedaan aktivitas fisik antara remaja yang kurang gizi dengan remaja yang tidak kurang gizi, dimana remaja yang tidak kurang gizi aktivitas fisiknya lebih aktif 30 menit. Goran (16) menyimpulkan aktivitas fisik mengacu pada semua kegiatan yang dilakukan seseorang dengan melibatkan fisiknya, dimana aktivitas fisik bisa dalam bentuk yang formal dengan aturan yang sudah ditentukan misalnya olahraga, ataupun yang semata dilakukan tanpa mengikuti persyaratan atau aturan main tertentu misalnya melakukan aktivitas ringan antara lain pekerjaan rumah (memasak, mencuci pakaian, menyetrika). Huriyati et al. (17) mengatakan remaja perkotaan lebih banyak melakukan akvitas ringan dibanding dengan aktivitas berat, waktu yang digunakan mencapai 12,4 jam per hari.
Nurachmah (18) mengatakan yang bisa diperhatikan pada seseorang yang melakukan aktivitas fisik olahraga, maka berat ringannya aktivitas fisik ditentukan oleh besar kecilnya keterlibatan otot di dalamnya akan membutuhkan energi dan protein yang cukup, Treuth et al. (19). Misalnya aktivitas senam maka yang paling banyak bergerak pada kedua tangan dibandingkan dengan bermain sepak bola yang lebih banyak menggunakan kedua kaki dalam keseluruhan aktivitas fisiknya. Demikian pula dengan aktivitas fisik non-formal lainnya seperti berjalan kaki, di situ gerakan tubuh kebanyakan dilakukan oleh lengan dan kaki (20).
Semua aktivitas yang melibatkan fisik/raga manusia membutuhkan energi dan energi ini yang memungkinkan seseorang melakukan tugasnya dengan baik (21). Setiap aktivitas fisik, dari yang hanya berlangsung dalam 30 detik hingga aktivitas olahraga yang berlangsung berjam-jam membutuhkan membutuhkan energi dan protein yang seimbang (22).
Penelitian dari (23) dengan menggunakan berbagai jenis olahraga antara lain lari, basket, volley, sepak bola bila tidak diimbangi dengan konsumsi energi dan protein yang cukup maka cadangan kalori dalam tubuh akan dipecah untuk menggantikannya, ini umumnya di alami oleh remaja dari keluarga yang berpenghasilan rendah. Aktivitas fisik berupa pekerjaan di rumah misalnya mencuci pakaian, menyeterika, memasak dan lain sebagainya telah dilaporkan oleh (11) bahwa aktivitas fisik berupa pekerjaan rumah ditinjau dari segi penggunaan energi, setara dengan cabang olahraga, lari dan senam. Peneliti bahkan merekomendasikan bentuk aktivitas fisik di rumah tersebut sebagai alternatif aktivitas fisik dalam penanganan kegemukan.
7. Perbedaan Prestasi Akademik Siswa Gakin dan Non Gakin
Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan prestasi akademik antara siswa gakin dan non gakin, ini terlihat dari nilai rata-rata rapor semester I dan II, dimana prestasi akademik siswa non gakin lebih tinggi 0,6 dari siswa gakin pada semester I, dan II. Hasil rata-rata prestasi akademik terdapat perbedaan (p=0,015) dimana siswa non gakin lebih tinggi 0,6 poin dari siswa gakin (tabel 14). Pada persentase pencapaian nilai (gambar 3) dalam kategori baik siswa non gakin ada 7,6% dibanding 0,6% pada siswa gakin, pada kategori nilai cukup terbanyak pada siswa non gakin yaitu 97,0% sementara siswa gakin hanya 45,8%, pula pada kategori prestasi akademik kurang terbanyak pada siswa non gakin yakni 53,5% sedang pada siswa non gakin hanya 4,4
Prestasi Akademik merupakan predisposisi tingkat pengetahuan seseorang, WHO (24) yang menyatakan bahwa pengetahuan berhubungan sikap dan praktek, sehingga pengetahuan akan mempengaruhi sikap seseorang untuk bertindak. Suyono (25), juga menyebutkan bahwa perilaku kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor perilaku dan faktor diluar perilaku. Perilaku sendiri ditentukan oleh tiga faktor yaitu faktor predisposisi yang berupa pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, norma sosial, faktor sosio demografi, seperti umur, pendidikan, status ekonomi, pekerjaan dan jenis kelamin.
Hasil analisis membuktikan adanya hubungan yang bermakna antara variabel luar yaitu pendidikan ayah, ibu, pekerjaan ayah dan % AKG protein dengan prestasi akademik siswa. Soekirman (12) mengatakan tingkat pendidikan orang tua yang berpenghasilan baik maka akan mempengaruhi asupan protein dan tingkat pencapaian pendidikan yang baik.
Salah satu akibat kekurangan gizi yang sulit untuk dipulihkan adalah penurunan kecerdasan. Santoso dan Ranti (26), pemberian makanan bergizi yang cukup akan menentukan tingkat intelegensi, anak yang kurang gizi mempunyai intelegensi yang rendah dibanding anak yang tidak kurang gizi. Rendahnya status gizi anak-anak sekolah akan berdampak negatif pada peningkatan kualitas SDM. Meski belum sepenuhnya konklusif, namun diyakini bahwa kurang gizi kronis berhubungan erat dengan pencapaian akademik murid sekolah yang semakin rendah. Anak-anak yang pendek karena kurang gizi ternyata lebih banyak yang terlambat masuk sekolah, lebih sering absen, dan sering pula tidak naik kelas (27).
Jelliffe (28) mengatakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam pendidikan adalah keadaan kesehatan dan gizi anak sekolah. Pengembangan kemampuan teknologi memerlukan kekuatan otak yang prima. Gizi pada usia dini yang terus dipertahankan secara optimal sampai anak usia sekolah, akan berpengaruh besar pada perkembangan kekuatan otak. Akses pendidikan yang semakin baik perlu ditunjang oleh kinerja kesehatan dan gizi yang cukup, sehingga anak-anak usia sekolah dapat memaksimalkan potensi dirinya untuk menjadi pribadi-pribadi berkualitas, dan cerdas.
Hawadi (27) mengatakan keadaan sosial keluarga berhubungan dengan pengembangan kecerdasan anak, dimana anak dari keluarga tidak miskin memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dari pada anak yang berada dari keluarga yang miskin, namun (29) tidak menyimpulkan bahwa anak dari keluarga yang tidak miskin di lahirkan untuk lebih cerdas. Selanjutnya menurut (26) status gizi yang baik akan mengatasi gejala kekurangan gairah belajar di kalangan siswa disebabkan kemampuan tubuh untuk mengikuti proses pendidikan yang di jalani, meskipun demikian pendidikan tidak luput dari berbagai masalah seperti keterbatasan pemahaman keluarga akan arti pentingnya gizi bagi pendidikan anaknya, karena gizi dapat berpengaruh terhadap prestasi akademik siswa.
Kesimpulan
1. Ada perbedaan status gizi antara siswa SMU gakin dan non gakin.
2. Ada perbedaan aktivitas fisik ringan antara siswa gakin dan non gakin.
3. Ada perbedaan prestasi akademik antara siswa gakin dan non gakin.
Saran
1. Dengan adanya perbedaan status gizi, aktivitas fisik ringan, dan prestasi akademik antara siswa gakin dan non gakin, maka pemerintah daerah harus mengatasi masalah kemiskinan yang ada dikota Bitung.
2. Pada siswa gakin perlu mengkonsumsi energi dan protein lebih, karena masih ada 41,4% dan 49,3% asupannya kurang dari 100% AKG. Keluarga miskin yang 49,0% adalah nelayan sebaiknya tidak menjual secara keseluruhan hasil tangkapannya, supaya kebutuhan protein tercukupi.
3. Para perumus kebijakan pasar harus memperhatikan kebutuhan dan daya beli masyarakat miskin dengan mengatur harga batas tertinggi dan terendah sehingga keluarga miskin bisa menjangkau kebutuhannya.
4. Pada penelitian ini akan lebih baik dilengkapi dengan analisis pola konsumsi, pola aktivitas, test akademik lain untuk mengetahui adanya hambatan motorik, tingkat kecerdasan, pengaruh lingkungan sosial, daya dukung fasilitas sekolah pada siswa gakin dan non gakin.
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih peneliti ucapkan kepada seluruh responden yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini, terima kasih yang sama juga peneliti sampaikan kepada kepala dinas Pendidikan Nasional Kota Bitung para kepala sekolah SMU yang telah mengijinkan sekolahnya dijadikan lokasi penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
1. Almatsier. S. (2003). Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
2. Soetjiningsih. (2004). Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Sagung Seto, Jakarta.
3. Enoch. M. (1989). Karena Kurang Gizi Kemampuan Belajar Anak Berkurang, Medika : Maret No.3 Tahun 15 (pp. 287-290).Grafiti Medika Pers. Jakarta.
4. Soejono. S.M., Masrun,. Hadi. S.(1989). Prestasi Belajar Mahasiswa PMDK dan Non PMDK (Ditinjau Dari Segi Intelegensi, Kebiasaan Belajar, Pendidikan Orang Tua, Status Sekolah dan Jenis Kelamin di FKIP Universitas Sebelas maret Surakarta. BPPS-UGM, 2(A4).
5. Widodo, U.S dan Syafrudin. (1989). Kaitan Tingkat Kegiatan Fisik Remaja dan Kaitannya Dengan Status Gizi, Puslitbang Gizi, Bogor.
6. Depkes RI. (2000). Penelitian Gizi dan Makanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi. Bogor.
7. BPS Propinsi Sulawesi Utara. (2003). Survei Sosial Ekonomi Nasional Sulawesi Utara 2003. BPS Propinsi Sulut.
8. Pemerintah Kota Bitung. (2004). Pembebasan Dana Pendidikan, SK Walikota Bitung Nomor : 420/PDK/ 642. Tanggal 21 Oktober 2004.
9. Lemeshow. S., Osmer, D.W.Jr.,Janlle, K., Lwanga. S.K. (1990). Adequasi Of Sample Size In Health Studies. (Pramono. D). (1997). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
10. Willet. W. (1990). Nutritional Epidemiology. Oxford University Press, New York.
11. Prista, A., Maia, J.A.R., Damasceno, A., and Beunen, G. (2003). Anthropometric Indicator Of Nutritional status: Implication For Fitness, Activity, and Health In School Age Children and Adolescents From Maputo, Mosambique. American Journal Clinical Nutrition. 77:952-9.
12. Soekirman. (2000). Ilmu Gizi dan Aplikasinya. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
13. Hadi. H. (2004). Gizi Lebih Sebagai Tantangan Baru dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional. Jurnal Gizi klinik Indonesia. Vol 1;2.
14. Azwar. A. (2004). Aspek Kesehatan dan Gizi Dalam Ketahanan Pangan. Cit. Prosiding WNPG VIII, 17-19 Mei,(hal 129-161), Jakarta.
15. Benefice, E. and Ndiaye, G. (2005). Relationships Between Antrhopometry, Cardiorespiratoty Fitness Indices And Physical Activity Levels In Different Age and Sex Groups In Rural Senegal (West Africa). Annals Of Human Biology 32:366-382.
16. Goran, M.I. (1998). Measurement Issues Related to Studies of Chilhood Obesity: Assessment of Body Composition, Body Fat Distribution, Physical Activity, and Food Intake. Pediatric, 101 (Suppl), 505-518.
17. Huryati. E., Hadi. H., Julia. M. (2004). Aktivitas Fisik Pada Remaja SLTP Kota Yogjakarta dan Kabupaten Bantul Serta Hubungannya Dengan Kejadian Obesitas. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, vol 1;2.
18. Nurachmah. E. (2001). Nutrisi Dalam Keperawatan, Sagung Seto, Jakarta.
19. Treuth, S.M., Hou, N., Young, D.R., and Maynard, L.M,. (2005). Accelerometry Measured Activity or Sedentary Time and Ovwerweigth in Rular Boy and Girls. Obesity Research 13; 1606-1614.
20. Faith M. S., Leone M., A, Ayers T.S., Heo M, and Pietrobelli A. (2002). Weight Criticism During Physical Activity, Coping Skills, and Reported Physical Activity in Children. Pediatric Vol.110, pp.e23-e23.
21. Ekelund, U., Aman, J., Yngve, A,. Renman, C., Westerterp, K., and Sjostrom, M. (2002). Physical Activity But Not Energy Expenditure Is Reduced In Obese Adolescents. American Journal Clinical Nutrition, 76 : 935-41.
22. Arvidson, D, Slinde, F., and Hulthen, L. (2004). Physical Activity Questionnaire For adolescents Validate Against Doubly labeled Water. European Journal Of Clinical Nutrition, 59, 376-383.
23. Bennett G.G., Wolyn K.Y., Viswanath K., Askew S., Puleo E, and Emmons K.M. (2006). Television View and Pedometer Determinaed Physical Aktivity Among Multiethic Residents of Low Income Housing. American Journal of Public Health 1681-185.
24. WHO (1988). Pendidikan Kesehatan; Pedoman Kesehatan Dasar. Universitas Udayana
25. Suyono. S. (1986). Hubungan Timbal Balik antara Kegemukan dan Berbagai Penyakit, Dalam Kegemukan Masalah dan Penanggulangannya. FKUI, Jakarta.
26. Santoso. S., dan Ranti. A.L. (1999). Kesehatan dan Gizi. Rineka Cipta, Jakarta.
27. Hawadi. R.A. (2004). A-Z Program Percepatan Belajar dan Anak Berbakat Intelektual. Garmadia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
28. Jelliffe. D.B. (1994). Kesehatan Anak di Daerah Tropis, Bumi Aksara, Jakarta.
29. Latinulu. S., dan Kartika. V. (2002). Faktor-faktor yang Mempengaruhi kemampuan Motorik Anak Usia 12-18 bulan di keluarga miskin dan tidak miskin. PGM, 25 (2). 38-48.